Review Film: Jumanji, The Next Level (2019)

Woke.id
Setelah film Jumanji, Welcome to The Jungle tayang pada tahun 2017 lalu kini muncul sekuel yang kedua, Jumanji, The Next Level. Yang ditayangkan mulai bulan Desember 2019.

Jika dulu 4 muda-mudi yang masuk ke dalam permainan konsol game Jumanji ketika masih SMA, sekarang mereka sudah kuliah lho! Masing-masing memiliki kesibukan sendiri dan rencananya mau reunian kembali.

Yang jelas sih, mereka sama-sama tidak mau kembali masuk ke dalam permainan Jumanji lagi, tetapi salah satu dari mereka entah bagaimana secara tidak sengaja tersedot masuk lagi. Parahnya, konsol game yang dulu itu sekarang sudah rusak. Akibatnya mereka tidak bisa memilih karakter sesuai dengan keinginan masing-masing seperti dulu.

Adegan kocak pun terjadi saat ternyata Eddie, kakeknya Spencer ternyata ikut masuk dalam permainan dan memasuki karakter Smolder Bravestone. Dan kawannya Milo, memasuki karakter Mouse Finbar. Ha, ha, ha seru banget kan?

Di sini akting Dwayne Johnson pun teruji, dia harus memerankan peran kakek yang lamban dan keras kepala. Kebayang nggak sih, noraknya si kakek Spencer dalam tubuh atletis Smolder Brevestone?

Layar.id
Martha tetap memasuki karakter Ruby Roundhouse yang cantik dan enerjik. Fridge yang tadinya memainkan karakter Mouse Finbar harus menerima kenyataan masuk ke tubuh profesor Shelly Oberon. Sementara Bethany yang niatnya mau masuk, malah tertinggal di dunia nyata. Nah loo!

Lalu di manakah Spencer? Film pun terus berjalan sampai bertemu dengan karakter baru dalam permainan yang diperankan dengan sangat kocak oleh Awkarin yaitu Ming. 

Saling bertukar karakter pun sempat terjadi antara Martha dan Fridge yang dimanfaatkan dengan lebay oleh Fridge. Dan akhirnya mereka bertukar kembali, huft! 

Sementara si kakek yang harusnya berjaga-jaga saat Ming dan Mouse Finbar mencuri kuda, malah mencari masalah dengan memanfaatkan tubuh Smolder Bravestone untuk mengajak semua yang lewat berkelahi. *parah banget nih, wkwkw! 

Film Jumanji, The Next Level ini tak kalah seru dengan filmnya yang pertama. Semua akting pemainnya luar biasa dalam mendalami peran. Terutama Dwayne Johnson, duh, dia itu harus memerankan 3 katakter sekaligus, Smolder Bravestone, Spencer dan Eddie. Gimana kalo ketiganya tertukar? Bikin pusing penonton nantinya, ha, ha...

Judul : Jumanji, The Next Level
Pemeran:
- Dwayne Johnson sebagai Dr. Smolder Bravestone avatar Spencer
- Jack Black sebagai Profesor Sheldon "Shelly" Obeson avatar Bethany
- Karen Gillan sebagai Ruby Roundhouse avatar Martha
- Kevin Hart sebagai Franklin "Mouse" Finbar avatar Fridge
- Nick Jonas sebagai Jefferson "Seaplane" Mc Donough avatar Alex Vreeke
- Awkwafina sebagai Ming Fleetfoot avatar Spencer yang baru
- Madison Iceman sebagai Bethany Walker
- Rhys Darby sebagai Nigel Billingsley, sang pemandu permainan
- John Ross Bowie sebagai Jorgen Spokesperson, musuh dalam permainan

Review Film Preman Pensiun 2019 : Sudahkah Mantan Preman Bersih dari Aksi Kejahatan?

Pikiran Rakyat

Bagi yang sudah pernah nonton "Preman Pensiun" pasti nggak asing dengan nama-nama Kang Bahar, Kang Mus dan Ce Euis kan? Ya, film ini pernah dibuat dalam bentuk sinetron session 1, 2, 3 dan FTV yang ditayangkan di RCTI.

Menceritakan tentang bos dan anak buahnya yang berprofesi sebagai pebisnis keamanan pasar alias preman. Namun menjelang hari tuanya, Kang Bahar ini pensiun dari pekerjaannya sebagai preman.

Kini Preman Pensiun dibuat  seri layar lebarnya dan sudah dirilis di awal tahun 2019.

Mengambil setting waktu 3 tahun setelah Kang Bahar (alm. Dedi  Petet), seorang kepala preman meninggal. Sekarang Kang Mus atau nama lengkapnya Muslihat menjadi pemimpin para preman yang sudah beralih profesi, ada yang menjadi pengusaha jaket kulit, petinju, satpam, peternak lele dan bisnis kecinpring/keripik singkong.

Kehidupan para anak buah yang sudah menjadi mantan preman ini benar-benar dipantau oleh Kang Mus agar mereka tidak lagi terlibat dalam dunia kejahatan kembali. Namun situasi ternyata berbeda, Si Eneng, putri Kang Mus satu-satunya mulai didekati oleh laki-laki dan membuat ayahnya khawatir. Dia mengirim bawahannya untuk memantau pacar anaknya. 

Usaha kecinpring yang dibuat Kang Mus juga baru lesu. Sementara Dikdik, anak buah Kang Mus baru terlibat masalah karena adik iparnya dikeroyok sampai masuk rumah sakit. Dikdik pun memutuskan untuk mengadakan reuni tanpa sepengetahuan Kang Mus agar mendapatkan identitas pelaku pengeroyokan.

Jalan cerita film layar lebar Preman pensiun tak jauh beda dengan versi sinetronnya. Sebagai film layar lebar dirasa kurang ada greget. Walau akting Epy Kusnandar tetap memukau dan didukung oleh aktor-aktor pendukung tetap saja terasa datar. 

Yang mengesankan dari film ini adalah permainan dialog yang saling menyambung antar adegan. Membuat kelucuan yang cukup menggelitik. 

Buat saya yang telah setia menonton seri sinetron Preman Pensiun dari awal, film ini memberi pesan tersendiri. Bahwa menjadi pemimpin tidaklah mudah karena orang yang ada di bawah kita belum tentu mau diarahkan. Tanggung jawab seorang pemimpin itu sangat berat dan butuh kerendahan hati untuk turun menyelesaikan masalah. Bukan hanya sekedar memberi perintah. 

Pemeran:

Epy Kusnandar: Muslihat/Kang Mus
Tia Arifin : Kinanti
Soraya Rasyid : Imas
Dedi Moch Jamasari : Gobang
Andra Manihot : Dikdik
Deny Firdaus : Murad
Ica Naga : Pipit
Abenk Marco : Cecep
M. Fajar Hidayatullah : Ujang Rambo
Purwo Kritiono : Bohim
Sadana Agung Sulistya : Rendi
Sandi Tile : Ceu Edoh
Vina Ferina : Ceu Esih

Sutradara: Aris Nugraha

Produksi: MNC Pictures 




Review Film Orang Kaya Baru : Saat Satu Keluarga Tajir Mendadak

majalahkartini.co.id

Pertama kali film ini dirilis pada awal tahun, jujur saya nggak tertarik buat nonton. Dari posternya aja sudah ketahuan jika film ini norak abis dan terbukti setelah akhirnya saya nonton juga, yeah!

Film ini dibuat berdasarkan naskah yang tulis oleh Joko Anwar dan disutradarai oleh Ody C. Harahap. 

Menceritakan sebuah keluarga sederhana yang memiliki 3 orang anak, Duta (Derby Romeo), Tika (Raline Shah) dan Dody (Fatih Unru). Semua yang berperan di sini membawa karakternya dengan baik. Namun tidak terasa lucu terutama di awal film padahal film ini masuk dalam jenis film komedi. 

Kelucuan baru terasa di sepuluh menit film berjalan yaitu sewaktu mereka bertiga menyusup masuk ke perkawinan hanya untuk numpang makan dengan menyamar menjadi tamu. 

Walau hidup sederhana Pak Hikmat (Lukman Sardi) dan istrinya (Cut Mini) selalu berusaha menyekolahkan ketiga anaknya di tempat yang terbaik. Filosofi yang dianut oleh sang Bapak termasuk nyeleh. Masa suka makan ikan katanya bikin pinter cari duit dan nggak  terbukti karena hidup mereka masih tidak bergelimang harta malah sering mengalamk masalah.

Pertama Tika yang kuliah di jurusan arsitektur bergengsi dengan mengandalkan kepandaian dan mencari beasiswa. Dituduh mencuri hape temannya. 

Kedua, Dody dikerjai gara-gara sepatunya rusak. Ketiga Duta yang berusaha mencari dana untuk membuat pertunjukkan teater. Sempat diejek oleh pegawai cafe karena penampilan. 

Ketiganya lalu mengeluh sama bapaknya jika penyebab masalahnya adalah karena tidak punya banyak uang. Bapak lalu menasehati bahwa uang kalo banyak itu nggak cukup kalo sedikit cukup. Keluarga mana yang sampai saat ini bisa makan bareng kayak keluarga mereka. 

Kejutan terjadi saat bapak mendadak meninggal. Duta dan Tika terancam putus kuliah, Dody memutuskan mimpinya untuk melanjutkan sekolah. 

Suatu pagi mereka kedatangan pengacara yang membawa video bapak. Kekocakan baru mulai terasa sekali di scene ini terutama oleh akting Lukman Sardi dan Cut Mini. 

Saat menonton adegan ini saya jadi bertanya-tanya sendiri. Mungkin nggak sih, seorang bapak selama puluhan tahun menyembunyikan fakta jika ia punya banyak uang dari istri dan anaknya. Duh, tega! Gitu kata mereka.

Mariviu.com

Sempat spechless saat tahu berapa jumlah warisan yang ditinggalkan oleh sang bapak. 30 milyar. Pantes aja Cut Mini histeris di bank begitu tahu jumlah pertama yang diterima ada 500 juta. Kalo saya sih langsung beli rumah dan modal usaha jika dikasih duit sebanyak itu, he, he berkhayal.

Istilah Orang Kaya Baru itu biasa disematkan kepada orang yang barusan jadi kaya dan memiliki kelakuan yang berbeda dengan orang kaya sudah lama. Mereka cenderung berlaku konyol dan menghambur-hamburkan uang yang dimiliki dengan membeli barang-barang mewah. 

Bukannya investasi mereka malah terlena dengan uang yang diwariskan bapak. Di akhir film mereka jadi sadar bahwa uang memang bisa membeli apa saja tapi tidak selalu menjadi pemecah masalah. 

Makjleb kan makna yang diberikan oleh penulis naskah dalam film ini? Menurut saya genre film ini masuk kategori film drama keluarga, romantis dan kocak. 

Nah, gimana akhir cerita mereka? Mending tonton saja filmnya sendiri di aplikasi film.



 

Review Film dan Buku Yustrini Published @ 2014 by Ipietoon